Analisis Alih Kode Dalam Percakapan Mahasiswa FKIP Universitas Dr. Soetomo Surabaya


 

 

Bab I

Pendahuluan

 

 

1.1   Latar Belakang

Bahasa adalah alat komunikasi verbal yang bersifat arbitrer, bahasa juga merupakan alat penghubung yang berupa symbol tertentu yang telah disepakati sehingga terjadi interaksi yang saling merespon satu dengan yang lain. Bahasa tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari, manusia selalu melakukan kegiatan setiap hari dan untuk memperlancar kegiatan tersebut dibutuhkan sebuah komunikasi yang nantinya akan menghasilkan sebuah keuntungan bersama.

Setiap penutur mempunyai kemampuan komunikatif berupa kemampuan berbahasa serta kemampuan mengungkapkan sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma pemakain dalam kontek sosialnya. Di dalam kajian ilmu sosiolinguistik terdapat beberapa dimensi yang harus diperhatikan yaitu: identitas social penutur, identitas social pendengar, lingkungan social terjadinya tindak tutur, analisis sinkronik dan diakronik, penilaian social yang berbeda dari penutur, tingkatan variasi dan ragam linguistick.

Dari macam dimensi tersebut, lingkungan social coba penulis analisa, dalam hal ini dalam lingkungan kampus. Pemakaian bahasa yang digunakan oleh para mahasiswa universitas Dr. Soetomo Surabaya mempunyai keunikan dan banyak ragam bahasa yang digunakan Karena para mahasiswanya terdiri dari banyak suku, ras, agama sebingga memungkinkan terjadi variasi kebahasaan. Penulis akan lebih menspesifikasikannya ke dalam penggunaan alih kode dalam percakapan mahasiswa FKIP Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Tempat peristiwa tutur terjadi dapat mempengaruhi pilihan kode dangayabertutur.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah dalam percakapan para mahasiswa terjadi alih kode?
  2. Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya alih kode?

1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1        Tujuan

  1. Mendeskripsi adakah proses alih kode dalam percakapan mahasiswa
  2. Mencari tahu faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya alih kode

1.3.2        Manfaat

  1. Mngetahuigayabicara para mahasiswa
  2. Bisa menyimpulkan dari percakapan tersebut adakah gejala alih kode atau tidak
  3. Wawasan kebahasaan semakin bertambah sehingga penulis bisa menggunakan dan menerapkannya sesuai dengan lingkungan penutur dengan baik dan benar.

Bab II

Pembahasan

2.1    Analisis Percakapan

Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa jawa sangat mempengaruhi komunikasi sehari-hari, dikarenakan penutur merupakan kelompok masyarakat suku jawa dan bahasa daerah atau bahasa nusantara akan selalu berdampingan dengan bahasaIndonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan

  1. proses terjadinya  alih kode
  2. penggunaan  bahasa jawa sebagai alat berkomunikasi dalam  percakapan tersebut
  3. siapakah yang mendominasi percakapan tersebut
  4. apa yang menyebabkan adanya dominasi dalam percakapan

Analisis percakapan adalah analisis yang sistematis tentang peristiwa berbicara yang dihasilkan dalam setiap situasi interaksi percakapan (talk-in-interaction). Analisis percakapan adalah kajian rekaman tentang percakapan dalam interaksi yang terjadi secara alamiah. Pada prinsipnya, analisis percakapan bertujuan untuk menemukan cara-cara partisipan mengerti dan menanggapi penuturan antara partisipan yang satu dengan yang lain dalam suatu giliran berbicara, dengan menitikberatkan pada urutan perilaku. Hal itu berarti analisis percakapan dapat menemukan langkah-langkah yang tidak dapat diduga sebelumnya dan kompetensi sosiolinguistik yang mendasari produksi dan interpretasi percakapan yang urutan interaksinya teratur (Hutchby dan Wooffitt, 1998).

Analisis percakapan adalah sebuah permulaan yang radikal dari bentuk-bentuk analisis yang diorientasikan secara linguistik pada produksi tuturan dan khususnya perolehan pengertian yang tidak hanya dilihat pada struktur bahasa tetapi yang pertama dan utama adalah sebagai sebuah penyelesaian sosial yang praktis. Hal itu berarti kata-kata yang digunakan pada saat berbicara tidak dikaji sebagai kesatuan-kesatuan semantik, tetapi sebagai hasil atau tujuan yang dibentuk dan digunakan dalam batasan aktivitas-aktivitas perundingan dalam berbicara, seperti salam, sapaan, keluhan, dan sebagainya.

Dengan percakapan, penutur menunjukkan urutan-urutan berikutnya dari sebuah pemahaman yang dibicarakan sebelumnya. Hal itu akan dapat menunjukkan hal-hal utama yang dikehendaki ataupun tidak dikehendaki oleh penutur. Langkah-langkah tersebut disebut sebagai langkah-langkah pembuktian giliran berikutnya (next-turn proof procedure). Langkah-langkah tersebut menjadi alat dasar dalam analisis percakapan untuk menjamin bahwa analisis benar-benar didasarkan pada kelengkapan percakapan sebagai orientasi partisipan dalam menyelesaikan percakapannya, bukan semata-mata didasarkan pada asumsi analis.

Urutan-urutan tuturan dalam sebuah percakapan akan memberikan kepastian informasi yang dikehendaki oleh partisipan dengan adanya pasangan tuturan yang berdekatan (adjacency pair). Pasangan tuturan yang berdekatan ini akan mempertegas langkah-langkah pembuktian terhadap cara-cara partisipan memahami dan membuat pengertian tentang tuturan yang ada.

Langkah-langkah pembuktian itu didasarkan pada tiga hal penting tentang peristiwa percakapan.

Pertama, tuturan dapat dipandang sebagai tujuan penutur untuk menggunakannya bagi penyelesaian sesuatu yang khusus dalam berinteraksi dengan yang lain daripada hanya sekedar mendengar.

Kedua, tuturan terjadi dalam konteks khusus yang memerlukan jawaban-jawaban metodis. Karakteristik metodis berbicara selalu ditujukan pada detail-detail interaksi dan konteks urutan dalam percakapan yang dihasilkan yang biasa disebut dengan tindak tutur. Ketiga, analisis percakapan merupakan sebuah metode ilmiah sosial. Hal itu didasarkan pada pandangan bahwa suatu percakapan dalam interaksi terdiri atas hubungan sebab-akibat yang menggunakan variabel-variabel linguistik yang dipengaruhi oleh variabel-variabel sosial (Hutchby dan Wooffitt, 1998:21).

2.2    Proses terjadinya alih kode

2.2.1        Pengertian alih kode

Menutut Apple(1976:79) mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi.

Menurut Hymes(1875:103) menyatakan alih kode hanya terjadi antar bahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Namun karena di dalam suatu kode terdapat berbagai kemungkinan variasi(baik variasi resional, variasi kelas social, ragam, gaya atau register) maka peristiwa alih kode mungkin berwujud alih varian, alih ragam, alih gaya atau alih register. Peralihan juga dapat diamati lewat tingkat-tingkat tatabunyi, tatakata, tatabentuk, tatakalilmat, maupun tatawacananya.

Alih kode merupakan salah satu aspek tentang saling ketergantungan bahasa. Di dalam masyarakat multilingual.

Dialog diatas menunjukkan terjadinya alih kode, ketika Aku, Dwi, Risdianto, dan Wanto mengobrol mereka menggunakan bahasa jawa karena mereka satu suku yaitu jawa. Lain halnya ketika farid datang membicaraan mereka menggunakan bahasaIndonesia, dikarenakan farid yang notabene orang madura dan kurang lancar bahasa jawa keempat rekannya menggunakan bahasa nasional untuk menyatukan agar terjadi interaksi di dalamnya.

Latar Belakang Hidup di dalam masyarakat dwibahasa (atau multibahasa) membuat orangIndonesiamampu berbicara dalam setidaknya dua bahasa. Mereka dapat menggunakan paling tidak bahasa daerahnya (yang biasanya merupakan bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena pengaruh globalisasi dan masuknya budaya asing, saat ini bahkan banyak sekali orang yang mampu berkomunikasi dengan lebih dari bahasa satu bahasa asing. Penguasaan beberapa bahasa mendorong orang-orang menggunakan berbagai bahasa tersebut dalam situasi dan tujuan yang berbeda. Karena inilah fenomena alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing) tidak dapat dihindari. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Umar dan Napitupulu (1994:13), bahwa alih kode merupakan aspek ketergantungan bahasa dalam suatu masyarakat dwibahasa. Hampir tidak mungkin bagi seorang penutur dalam masyarakat dwibahasa untuk menggunakan satu bahasa saja tanpa terpengaruh bahasa lain yang sebenarnya memang sudah ada dalam diri penutur itu, meskipun hanya sejumlah kosa kata saja. Alih kode dapat terjadi di berbagai situasi dan tempat.

Landasan Teori Alih kode merupakan hal yang dibahas dalam sosiolinguistik. Sosiolinguistik mempelajari bahasa dengan mempertimbangkan hubungan antara bahasa dan masyarakat penutur bahasa tersebut (Rahardi, 2001:12- 13). Orang-orang akan akan berkomunikasi menggunakan bahasa atau kode tertentu berdasarkan siapa yang mereka ajak bicara dan dalam situasi yang seperti apa serta tujuan apa yang ingin mereka peroleh melalui penggunaan kode tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fishman, “who speaks (or write) what language (or what language variety), to whom and when, and to what end?” (dalam Wardaugh, 1986:16). Selain itu, pemilihan kode yang sesuai untuk situasi tertentu juga dipengaruhi oleh komponen tutur yang disingkat sebagai SPEAKING, yang diungkapkan oleh Dell Hymes (dalam Fasold, 1990:44-46). Komponen tutur ini terdiri atas Situation (tempat dan waktu terjadinya tuturan), Participants (peserta tutur), Ends (tujuan), Act sequences (pokok tuturan), Keys (nada tutur), Instrumentalities (sarana tutur), Norms (norma tutur), dan Genre (kategori)kebahasaan yang sedang dituturkan). Alih kode merupakan salah satu akibat adanya kontak bahasa. Kontak bahasa terjadi ketika dua bahasa atau lebih digunakan oleh penutur yang sama (Suwito dalam Rahardi, 2001:17). Kontak bahasa ini akan memengaruhi salah satu bahasa yang digunakan penutur, dan hal ini terlihat dari adanya beberapa leksikon pinjaman dari salah satu bahasa tersebut.

                 kode adalah suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan lawan bicara, dan situasi tutur yang adalasi penutur dengan lawan bicara, dan situasi tutur yang ada. Sementara Sumarsono dan Pertana (2002:201) mengatakan bahwa kode merupakan bentuk netral yang mengacu pada bahasa, dialek, sosiolek, atau variasi bahasa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Tanner (dalam Pride & Holmes ed., 1972:126) bahwa kode mencakup bahasa dan perbedaan intrabahasa yang disebut variasi (tingkat tutur, dialek, dan ragam). Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kode mencakup bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan variasi bahasa tersebut, termasuk dialek, tingkat tutur, dan ragam. Dengan kata lain, kode adalah sistem yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dengan mitra tuturnya .(Rahardi ,2001:21) mengatakan bahwa alih kode adalah penggunaan altenatif dari dua variasi atau lebih dari bahasa yang sama atau dalam suatu masyarakat dwibahasa. Sementara itu,Crystal (dalam Skiba, 1997 hal. 2) mengatakan bahwa peralihan kode atau bahasa terjadi ketika seorang dwibahasawan saling bergantian menggunakan dua bahasa selama dia berbicara dengan dwibahasawan lain. Chaer dan Agustina (1995:141) menambahkan bahwa alih kode adalah ”peristiwa pergantian bahasa…atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi ke ragam santai….” Jadi dalam alih kode, pemakaian dua bahasa atau lebih ditandai oleh kenyataan bahwa masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, dan fungsi masing-masing bahasa itu disesuaikan dengan relevan dengan perubahan konteksnya.

Dalam alih kode setiap bahasa atau ragam bahasa memiliki fungsi otonomi masing-masing, sedangkan kode-kode yang lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanya berupa serpihan-serpihan saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode Chaer and Agustina (1995:151). Dalam alih kode setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakan itu masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan dengan sengaja dengan sebab-sebab tertentu (fungsional).

2.2.2        Beberapa faktor penyebab alih kode

Kalau menelusuri penyebab terjadinya alih kode kita harus kembali ke pokok bahasan sosiolinguistik yang dikemukakan  oleh Fishman (1976) yaitu siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa. Dalam berbagai kepustakaan linguistic secara umum penyebab alih kode itu antara lain: (1) pembicara atau penutur,(2) pendengar atau lawan tutur,(3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga,(4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya,(5) perubahan topic pembicaraan.

Menurut Crystal (dalam Skiba, 1997:p 3-4), peralihan bahasa satu ke bahasa lain dapat dikarenakan oleh hal berikut ini:

1. Penutur tidak dapat mengungkapkan sesuatu dalam bahasanya sehingga beralih ke bahasa lain.

2. Penutur ingin mengungkapkan solidaritas dengan kelompok sosial tertentu.

3. Penutur ingin mengekspresikan sikapnya kepada mitra tutur.

Senada dengan hal di atas, Wardaugh (1986:102) mengatakan bahwa seorang penutur beralih dari variasi X ke variasi Y karena adanya solidaritas dengan pendengarnya, pemilihan topik, dan jarak sosial. Adapun Chaer dan Agustina (1995:143) menyimpulkan bahwa penyebab alih kode antara lain penutur, mitra tutur, perubahan situasi karena adanya orang ketiga, perubahan dari situasi formal ke informal, dan topik yang dibicarakan. Dari berbagai pendapat tersebut,dapat disimpulkan bahwa munculnya alih kode dapat dipengaruhi oleh para partisipan pembicaraan, perubahan situasi, perubahan topik, dan solidaritas.

Para mahasiswa juga menguasai bahasa yang beragam pula, tetapi mereka minimal bisa menggunakan bahasa Jawa dan bahasaIndonesia, dan beberapa di antaranya menguasai bahasa asing lain seperti bahasa Inggris, Jepang, maupun Arab..  Alih kode eksternal Alih kode eksternal terjadi ketika penutur berganti bahasa antara bahasa lokal ke bahasa asing. Alih kode ini banyak muncul ketika para anggota beralih dari bahasa Indonesia atau Jawa ke bahasa Inggris, atau sebaliknya.  Alih kode situasional Alih kode situasional terjadi ketika para penutur menyadari bahwa mereka berbicara dalam bahasa tertentu dalam suatu situasi dan bahasa lain

Faktor yang Memengaruhi Alih Kode Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi para mahasiswa untuk melakukan alih kode, antara lain:

1. Partisipan pembicaraan Partisipan pembicaraan atau penutur lain dapat memengaruhi terjadinya alih kode. Misalnya pada data berikut, di mana penutur menggunakan bahasa Jawa: Tetapi [A25]Wanto :engko ngumpul nang sanggar cok! Rapat koordinasi paling. karena ada penutur lain yang menggunakan bahasa Indonesia seperti data berikut:[A29]Farid: hai temen-temen besok mungkin ada rapat lagi, kemarin kalian pada gak  datang  dari semester kita yang datang Cuma aku tok rek, maka ia juga beralih menggunakan bahasaIndonesia. Seperti contoh berikut: [A30]Wanto: siapa aja yang mencalonkan?

2.   Perubahan situasi Alih kode dapat terjadi karena adanya perubahan situasi, karena hadirnya orang ketiga.

2.2.3        Macam-macam alih kode

Menurut Soewito ada dua macam alih kode, yaitu alih kode intern dan alih kode ekstern. Yang dimaksd alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antarbahasa sendiri, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, atau sebaliknya. Sedangkan alih kode ekstern adalah alih kode yang terjadi antara bahasa sendiri(salah satu bahasa atau ragam yang ada dalam verba repertoire masyarakat tuturnya) dengan bahasa asing.

Jadi, bisa disimpulkan dari percakapan di atas terjadinya proses alih kode intern karena adanya perubahan percakapan dari bahasa Jawa ke bahasaIndonesia.

Wardaugh (1986:102-103) danHudson(1996:52-53) menjelaskan dua jenis alih kode, metaforis dan situasional, sedangkan Hymes (dalam Rahardi, 2001:20) menyebutkan alih kode internal dan eksternal.

1. Metaforis Alih kode metaforis terjadi jika ada pergantian topik (Wardaugh, 1986:103). Alih kode ini memiliki dimensi afektif, yaitu kode berubah ketika situasinya berubah, misalnya formal ke informal, resmi ke pribadi, maupun situasi serius ke situasi yang penuh canda.

2. Situasional Alih kode ini terjadi berdasarkan situasi di mana para penutur menyadari bahwa mereka berbicara dalam bahasa tertentu dalam suatu situasi dan bahasa lain dalam situasi yang lain (Wardaugh, 1986:102-103). Tidak ada perubahan topik dalam alih kode situasional.

Sebagai tambahan, menurutHudson(1996:52), dalam alih kode situasional pergantian ini selalu bertepatan dengan perubahan dari suatu situasi eksternal (misalnya berbicara dengan anggota keluarga) ke situasi eksternal lainnya (misalnya berbicara dengan tetangga).

1. Internal Alih kode internal adalah alih kode yang terjadi yang terjadi antarbahasa daerah dalam suatu bahasa nasional, antardialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dangayayang terdapat dalam suatu dialek (Hymes dalam Rahardi, 2001:20).

2.  Eksternal Alih kode eksternal terjadi ketika penutur beralih dari bahasa asalnya ke bahasa asing (Hymes dalam Rahardi, 2001:20), misalnya dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau sebaliknya.

2.2.4        Analisi Data

Dalam hal ini penulis tertarik untuk meneliti fenomena alih kode yang muncul pada percakapan di lingkungan kampus. Dalam percakpan tersebut para mahasiswa sering melakukan alih kode (biasanya dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia). Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Menunjukkan jenis alih kode dan campur kode yang muncul, 2. Menjelaskan faktor yang memengaruhi munculnya alih kode. Data Data diperoleh melalui metode simak libat cakap, di mana peneliti juga berpartisipasi secara langsung dalam pembicaraan.

Setiap kalimat dalam data diurutkan untuk memudahkan analisis seperti dalam  percakapan dibawah ini yang menunjukkan terjadinya alih kode:

[A28]Aku        : iyo…. Rek kok gak bareng kerjo, kepingin melok

[A29]Farid      : hai temen-temen besok mungkin ada rapat lagi, kemarin kalian        pada gak  datang  dari semester kita yang datang Cuma aku tok rek!

Dari dialog [A28] menuju ke dialog [A29] menunjukkan terjadinya proses alih kode, karena ditandai peralihan dari bahasa jawa ke bahasaIndonesia. Ragam yang digunakan adalah ragam santai atau nonformal. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode padan pragmatis (Sudaryanto, 1993:25), di mana peristiwa alih kode dan campur kode dianalisis dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar bahasa tersebut, seperti faktor sosial. Untuk lebih jelas bisa dilihat dari tabel di bawah ini.

Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan

A.  Dalam Percakapan di atas terdapat alih kode dengan beralihnya percakapan berbahasa Jawa beralih berbahasaIndonesiahal ini dibuktikan dengan adanya percakapan sebagai berikut:

[A25]Wanto    : engko ngumpul nang sanggar cok! Rapat koordinasi paling

[A26]Aku        : iyo…. Aku mang diwara farid konkon melok

[A27]Dwi        : seminare apik lo dialek melek

[A28]Aku        : iyo…. Rek kok gak bareng kerjo, kepingin melok

[A29]Farid      : hai temen-temen besok mungkin ada rapat lagi, kemarin kalian        pada gak  datang  dari semester kita yang datang Cuma aku tok rek!

[A30]Wanto    : siapa aja yang mencalonkan?

[A31]Farid      : kemarin dari semester dua ada Mey sama Haris

[A32]Wanto    : lho..semester dua boleh ikut ta?

B. . Dalam berbagai kepustakaan linguistic secara umum penyebab alih kode itu antara lain: (1) pembicara atau penutur,(2) pendengar atau lawan tutur,(3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga,(4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya,(5) perubahan topic pembicaraan.

Menurut Crystal (dalam Skiba, 1997:p 3-4), peralihan bahasa satu ke bahasa lain dapat dikarenakan oleh hal berikut ini:

1. Penutur tidak dapat mengungkapkan sesuatu dalam bahasanya sehingga beralih ke bahasa lain.

2. Penutur ingin mengungkapkan solidaritas dengan kelompok sosial tertentu.

3. Penutur ingin mengekspresikan sikapnya kepada mitra tutur.

Wardaugh (1986:102) mengatakan bahwa seorang penutur beralih dari variasi X ke variasi Y karena adanya solidaritas dengan pendengarnya, pemilihan topik, dan jarak sosial. Adapun Chaer dan Agustina (1995:143) menyimpulkan bahwa penyebab alih kode antara lain penutur, mitra tutur, perubahan situasi karena adanya orang ketiga, perubahan dari situasi formal ke informal, dan topik yang dibicarakan

3.2    Saran

mahasiswa harus sering melakukan penelitian-penelitian, baik melalui tugas atau penelitian kreatif mahasiswa sendiri dengan menambah wawasan tentang penggunaan bahasa di masyaratakat

Daftar Pustaka

 

Apple, R. dkk. Sociolinguistiek, Het Spectrum, Antwerpen/Utrecht,1976

Poedjosoedarmo, S. ,”Analisa Variasi Bahasa “ dalam penataran dilektologi, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,Jakarta, 1976

REFERENSI Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar.Jakarta: Rineka Cipta. Fasold, Ralph. 1990.

Advertisements

PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA PERSEPSI DAN UPAYA MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN KETOPRAK SEBAGAI TEATER TRADISIONAL DI KABUPATEN BLITAR

A. JUDUL PROGRAM

PERSEPSI DAN UPAYA MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN KETOPRAK SEBAGAI TEATER TRADISIONAL DI KABUPATEN BLITAR

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Salah satu kesenian tradisional yang bertahan sampai saat ini adalah ketoprak. Kesenian ini sampai saat ini masih kita jumpai baik dalam bentuk pertunjukan di lapangan terbuka maupun di dalam gedung, baik di radio maupun di televise. Perkembangan ketoprak dari tahun ke tahun perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerhati kesenian, masyarakat maupun lembaga-lembaga yang berkompeten, dalam hal ini khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Akhir-akhir ini kesenian ketoprak mangalami kemunduran, hal ini dapat kita lihat dari berkurangnya kelompok-kelompok ketoprak yang semakin menyusut dan minat masyarakat yang menurun karena banyaknya hiburan yang lebih modern. Apalagi ditambah dengan keengganan generasi muda untuk mengembangka kesenian ini. Sebagaian generasi muda di Blitar berpendapat bahwa dunia ketoprak tidak dapat dijadikan mata pencaharian yang menjamin masa depan, bahkan ada kecenderungan dari insan seni ketoprak amatir yang tampil dalam pementasan ketoprak hanya sebagai pengisi waktu luang. Masyarakat akan berapresiasi negatif terhadap keberadaan ketoprak, apabila keadaan tersebut dibiarkan, sehingga sewaktu saat dalam perkembangan kesenian ketoprak muncul perkumpulan ketoprak yang bagus dan professional akan dinilai sama dengan ketoprak yang pernah disaksikan sebelumnya.

Penelitian ketoprak di Blitar ini di latar belakangi keinginan berbagai permasalahan ketoprak di Blitar. Dalam pandangan umum perkembangan ketoprak di Blitar antara satu kecamatan satu daengan kecamatan yang lainnya berbeda, baik dari jumlah perkumpulan (grup), jumlah pemain maupun jumlah pementasan dalam setahun. Dari aspek persepsi dan antusias penonton antara kecamatan yang satu dengan kecamatan yang lain berbeda. Hal tersebut terjadi karena kualitas dan kuantitas pertunjukan tidak menunjukka keseimbangan.

Penelitia persepsi masyarakat terhadap ketoprak sebagai teater tradisional ini sangat penting untuk mengukur keberadaan ketoprak yang ada di Blitar baik dari segi kualitas dan kuantitas. Selain itujuga mencoba memberikan format alternatif yang efektif terhadap kesenian tradisional ketoprak, agar tetap bertahan dan berkembang dalam menghadapi persaingan dengan berbagai kebudayaan impor di era glabalisasi.

Kesenian ketoprak akan berjalan sesuai dengan harapan apabila mempertimbangkan aspek-aspek lain, terutama yang berkaitan dengan aspek sosiologis. Aspek yang harus dipertimbangkan terutama aspek dialektika yang sangat berpengaruh pada penikmat ketoprak itu sendiri, aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah nilai amanat dan misi yang akan disampaikan, nilai estetisnya, dan penyesuaian esensi ketoprak dengan penonton sebagai konsumen seni.

Fenomena yang akan kita lihat adalah musnahnya kesenian ketoprak di masa yang akan datang, apabila semua itu tidak diperhatikan, permasalahan ini diangkat karena kenyataan yang ada di lapangan memperlihatkan grafik yang negatif. Banyak kelembagaan ketoprak yang sudah kehilangan makan dan esensi seni. Sebagai kesenian tradisi yang mempertimbangkan aspek kedaerahan, seharusnya ketoprak memiliki tujuan luhur, yaitu mengutamakan aspek pembinaan dan pendidikan terhadap masyarakat, terutama aspek pendidikan kesejarahan. Pergeseran unsure sejarah dalam pementasan-pementasan ketoprak memang menjadi issue parsial saat ini, banyak yang memodifikasi nilai sejarah dalam ketoptrak, sehingga nilai-nilai kesejarahan tersebut bergeser. Lebih tepatnya misi-misi sejarah dalam ketoprak dalam saat ini telah banyak dirombak, diganti misi-misi yang diselaraskan dengan berbagai kepentingan. Dengan begitu, saat ini timbullah sebutan-sebutan baru; yaitu corak ketoprak-ketoprak  tradisional dan ketoprak modern ( Suwondo:1997 ).

Dalam tataran lain, penelitian ini berguna untuk mendokumentasikan perkembangan ketoprak di kabupaten Blitar dari tahun ke tahun, memberikan sumbangan gagasan dalam pembinaan dan pelestarian kesenian ketoprak khususnya di Kabupaten Blitar. Pembinaan mengacu pada pengertian pengarahan pertumbuhan dan perkembangan ketoprak di masyarakat dengan tidak menghilangkan cirri-ciri khas tradisional, sehingga terjadi pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan terjadi dengan wajar, mutu dan kekhasan artistiknya dapat dipertahankan.

Demikianlah berbagai alasan yang melatar belakangi munculnya keinginan merealisasikan kedalam penelitian persepsi terhadap ketoprak sebagai teater tradisional dan perkembangannya di Kabupaten Blitar.

C. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini

sebagai berikut:

  1. Bagaimana format ketoprak di Kabupaten Blitar?
  2. Bagaimanakah  apresiasi masyarakat Kabupaten Blitar terhadap keberadaan kesenian ketoprak?
  3. Bagaimana bentuk-bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dan mengembangka ketoprak di Kabupaten Blitar?

D. TUJUAN PROGRAM

Berkaitan dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian yang akan

dicapai yaitu sebagai berikut ini:

  1. Mendeskripsikan format pementasan ketoprak di Kabupaten Blitar
  2. Mendeskripsikan apresiasi masyarakat Kabupaten Blitar terhadap keberadaan kesenian ketoprak
  3. Mendeskripsikan bentuk- bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dan mengembangka ketoprak di Kabupaten Blitar

E. MANFAAT PROGRAM

a. Manfaat Teoritis

–  Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi khasanah perkembangan kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar khususnya dan di Jawa Timur pada umumnya.

–  Hasil penelitian diharapakan dapat memberikan masukan bagi teori-teori seni tradisional.

b. Manfaat Praktis

–  Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar.

–  Sebagai salah satu acuan kritik ketoprak selanjutnya, baik bagi mahasiswa maupun peminat sastra lainnya.

F. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Program penelitian ini diharapkan memberikan luaran sebagai berikut:

  1. Artikel Ilmiah
  2. Panduan penelitian terhadap kesenian ketoprak sebagai teater tradisionall

G. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

1.  Landasan Teori

Definisi sastra yang dikemukakan para ahli sangat banyak. Banyaknya definisi yang dikemukakan itu akibat sudut pandang yang berbeda terhadap sastra. Secara etimologis, kata “kesusastaraan” berasal dari bahasa sensekerta “ susastra”. “su” berarti ‘indah’ atau ‘baik’, sedangkan “sastra” adalah kata bentukan yang berasa dari kata pradasar “sus” (Shus atau Cus) dan “tra”. “Sus” berarti aturan, ajaran, ilmu pengetahuan, nasihat, petunjuk, atau agama. “Tra” artinya alat, sehingga sastra berarti alat untuk menyampaikan ajaran, aturan, ilmu pengetahuan, dan agama. Dalam perkembangannya “kesusastraan” berarti karangan-karangan sastra ( Anonim, Depdikbud, 1974)

Menurut pandangan Wellek dan Warren (1993) mendefinisikan sastra dari sudut ekspresif, sebagai suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Dalam sudut pandang sosial, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupaka ciptaan sosial, ( Sapardi DjokoDamono, 1978:1).

Dalam batasan yang lebih luas, sastra didefinisikan sebagai suatu ciptaan manusia yang dilahirkan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang sanggup menggemakan keindahan dan kesenangan dalam lubuk jiwa dan menimbulkan keharuan rasa pada orang yang membacanya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993:7)

Secara genre sastra dibagi menjadi 3 yaitu: puisi, prosa dan drama. Ketoprak dalam sastra termasuk drama tradisional. Demikian beberapa definisi sastra dikemukakan, sangat banyak  definisi lain dari berbagai ahli dan berbagai sudut pandang yang belum terangkum dalam tulisan ini.

Pengertian sastra tradisional sebenarnya adalah istilah dari sastra modern. Pembagian yang didasarkan pada aspek waktu pemunculan dan corak sastra secara kategorial dan pertimbangan tradisi ( Rendra, 1984:3 ).

Sastra dapat dibedakan sesuai sudut pandang yang diambil, misalnya sastra kontemporer dan sastra konservatif dalam sudut pandang model dan esensi sastra. Tulisan ini memfokuskan pada pembagian sastra tradisional dan modern sesuai dengan ranah analisis dan penelitian yang dikembangkan.

Corak perbedaan sastra tradisional dan modern didasarkan kurun waktu. Karya seperti novel, cerita pendek, dan drama tergolong dalam genre sastra modern. Sedangkan yang bercorak tradisional yaitu: ketoprak, wayang, ludruk dan kentrung. Sastra modern umumnya bercorak realities, sedangkan sastra tradisional bersifat klasik, dengan muatan legenda dan mitos. Bandingkan dengan JJ. Ras ( 1985:XIII ):

Novel dan cerita pendek Jawa modern bercorak realities romantik, diteruskan dengan genre-genre yang lebih tradisional seperti: wayang, ketoprak, kentrung, dan juga dalam karya bertalian dengan kesusastraan klasik, dengen legenda dan mitos. Karangan fiksi yang isinya sangat jauh dari luar bidang romantik yang lazim sampai sekarang belum bisa popular betul. Walaupun penulis fiksi Jawa modern tentu saja tidak menyajikan penggambaran secara harfiah, hubungan nyata antara cerita dan kehidupan sesungguhnya sampai sekarang masih menjadi cirri penting dalam sebagaian besar karangan.

Rendra (1984) mendefinisikan sastara tradisional sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam sebuah masyarakat. Ia merupakan kesadaran kolektif sebuah masyarakat. Sedangkan JJ. Ras (1985) memberikan pengertian yang hampir sama dengan Rendra tentang sastra tradisional sebagai sastra yang terikat oleh patokan-patokan yang ditaati turun temurun dan dari generasi ke generasi, sendangkan sastra modern merupakan hasil rangsangan kreatif dalam masyarakat modern.

Sebagaimana dijelaskan pada bagain di atas tentang sastra tradisional, di bawah ini akan dipaparkan jenis-jenis sastra tradisional, dengan focus uraian pada kesenian tradisional sebagai objek penelitian.

Wayang adalah jenis pertunjukan kesenian tradisional dengan menggunakan wayang kulit, dengan cerita-cerita yang mula-mula bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana dari India, permainannya dilakukan oleh seorang dalang (bandingkan dengan Sunarto, 1989:12)

Ludruk adalah salah satu kesenian khas Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, termasuk Malang, Jombang, Kediri, dan Jember. (Supriyanto, 1992:IX). Cirri-ciri ludruk sebagai kesenian tradisional sebagaimana dijelaskan Supriyanto adalah : (1) tokoh wanita sebagian besar diperankan oleh laki-laki, (2) lagu seniman ludruk berupa kidung, (3) iringan musiknya adalah gamelan berlaras slendro, pelog, dan laras slendro pelog, dan (4) tari pembukaan disebut “gremo

Kentrung adalah nama kesenian tradisional yang berasal dari iringan musik khusus yang menceritakan kisah tertentu. Musik tertentu terdiri dari rebana-rebana kecil dan besar. Kisah-kisah yang diceritakannya biasanya adalah; Aji Saka, Jaka Tarub, Roman Damarwulan, dan sebagainya (JJ. Ras, 1985:5)

Tari Topeng, bila ditinjau dari fungsi kesenian merupakan sarana ekspresi simbolis untuk mewujudkan kosepsi-kosepsi keagamaan, khususnya yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan tertentu (Edy Setyawati, 1993:2).

Ketoprak sebagai teater tradisional pada awalnya lahir dari spontanitas pelaku di tengah-tengah masyarakatnya ( Supriyanto, 1986:91). Lebih luas lagi Asti Diponingrat dalam JJ. Ras (1985:224) menjelaskan pengertian ketoprak secara etimologis:

Secara etimologis ketoprak berasal dari kata ‘dung..dung..prak’ atau bunyi-bunyian ‘prak..prak..prak’ dari alat penumbuk padi. Dari bunyi-bunyian yang ‘dung..dung..prak’, maka teater ini disebut “ketoprak”. Dalam pandangan lain bunyi tersebut dihasilkan dari peralatan terbuat dari bambu yang diikat pada ujungnya. Alat ini digunakan oleh para petani di pedesaan untuk mengusir burung-burung yang mau memakan padi di sawah. Alat bambu tersebut disebut ‘tiprak’, ‘goprak’, bahkan ada yang mengatakan ‘keprak’.

Henry Supriyanto (1985:105) memberikan pengertian ketoprak sebagai pertunjukan yang diiringi bunyi-bunyian semacam goprak secara dominant tersebut akhirnya oleh rakyat disebut sebagai ketoprak. Ketoprak sebagai teater tumbuh dari rakyat yang “ngamen”, semula meraka memakai tetabuhan lesung dan selanjutnya menggunakan gamelan Jawa.

Berdasarkan hasil kongres ketoprak pada tanggal 5-7 februari 1974 di Yogyakarta, dirumuskan periodesasi ketoprak berdasarkan tempat pementasan, pertumbuhan, dan kesejarahannya, sebagai berikut (Supriyanto, 1986:105):

(1)   masa pertama  : ketoprak halaman (lesung) atau drama rakyat,

(2)   masa kedua     : ketoprak pendapaan atau dikenal dengan drama tari (1925-1927)

(3)   masa ketiga     : ketoprak panggung atau gamelan (1927- sekarang)

Ketoprak terdiri dari dua ragam yaitu: ragam garapan dan ragam konvensional. Ketoprak garapan didefinisikan sebagai ketoprak yang digarap dengan memadukan unsure-unsur kesenian lain seperti: teater modern, film, wayang kulit, ludruk, tari, dan lain-lain. Artinya ketoprak garapan sangat terbuka terhadap berbagai unsur seni. Aspek bahasa, musik pengiring, setting, lakon (struktur lakon) serta berbagai tradisi dan kebiasaan  yang lazim dilakukan dalam pertunjukkan ketoprak, dipengaruhi oleh idiom kesenian lain sehingga penyajian ketoprak lebih terlihat tergarap.

Sebagimana hasil lokakarya ketoprak 1997 di Yogyakarta. Cirri-ciri ketoprak garapan sebagai berikut: (1) menggunakan naskah penuh, (2) tangga dramatik mengacu pada dramaturgi barat (3) akting dan bloking ditata dan berpola, (4) tatarias, tatabusana realis dan simbolis, (5) tatalampu dan tatasuara mamanfaatkan teknologi elektronok, (6) instrumen pengiring lehih luas, tidak harus diatonis atau pentatonic, tetapi dapat juga dikombinasi, (7) pertunjukan tidak lebih dari 2,5 jam, (8) keprak kadang dipakai kadang tidak, dan (9) tembang kadang dipakai kadang tidak.

Ketoprak konvensional adalah ketoprak yang berkenan di hati masyarakat pinggiran. Ketoprak konvensional dapat juga dikatakan sebagai bagian dari kebutuhan jiwa bagi meraka yang memiliki komitmen pada budaya local Jawa melalui ketoprak. Cirri-ciri ketoprak ini adalah: (1) tidak menggunakan naskah atau scenario, (2) dramatik lakon mengacu pada wayang kulit purwa: (3) dialog bersifat improvisasi, (4) akting dan bloking bersifat intuitif, (5) tatarias dan tatausana realis, (6) musik pengiring gamelan Jawa, (7) menggunakan keprak dan tembang, (8) lama pertunjukan relatif lama, (9) tema cerita dan pengaluran bersifat lentur (Nusantara, 1967:52-56)

Menurut Harymawan (1993), terdapat empat macam akulturasi ketoprak terhadap teater barat yaitu:

  1. Faktor Cerita

Mula-mula diambil dari cerita-cerita klasik, legenda khayal, seperti Panji, Jaka Tarub, dan Piti Tumo. Kemudian meningkat cerita Mesir, Cina, Ma Cun dan lain-lain dan akhirnya diketengahkan cerita-cerita sejarah, kapahlawanan, roman, dan sebagainya.

  1. Faktor Akting

Dengan menari, semula maju mundur, kemudian menjadi joget daplang berirama 3-2-1, lenggal ukel bagi kaum wanita, akhirnya tarian ditiadakan, dialognya bebas, improvisasi, sederhana, dan mudah diterima oleh penonton. Kemudian dkenal paramasastra dan antawecana dengan unsure-unsur filsafat Jawa.

  1. Faktor Pentas

Ruang pelakonan adalah tempat terbuka, kemudian “perunggitan”, yaitu bagian dalam runah konstruksi Jawa, Pendapa, dan akhirnya panggung

  1. Faktor Penonton

Mula-mula rakyat jelata, kemudian mendapat sponsor dari kalangan ningrat, sehingga kalangan ini mulai tertarik pada ketoprak, akhirnya masyarakat luas turut menikmati.

Menurut sutradara Siswo Budoyo, Budihartanto struktur pementasan ketoprak tradisional meliputi:

  1. Klenengan oleh karawitan
  2. Tari gambyong dan tari-tari lainnya
  3. Memulai pertunjukan dari babak ke babak
  4. Dagelan yang mengiringi tokoh baik protagonist maupun antagonis
  5. Melanjutkan babak berikutnya hingga selesai.

Menurut Henry Supriyanto (1993) fungsi ketoprak dalam masyarakat adalah:

  1. Sebagai alat pendidikan
  2. Sebagai media komuniksi seni
  3. Sebagai hiburan
  4. Sebagai media histories

Ketoprak merupakan budaya bangsa yang dihasilkan rakyat yang membutuhkan suatu bentuk kesenian, bentuk pentas yang sesuai dengan tuntutan masyarakat waktu itu. Dengan demikian, fungsi ketoprak dalam sastra menurut Edy Setiawati (dalam Seni Pertunjukan Indonesia, 1993:32) sebagai sarana ekspresi simbolis untuk menyalurkan tanggapan-tanggapan dan kesan atas alam  beserta sifat-sifatnya, maupun atas konsep-konsep budaya tertentu dalam bentuk visual yang terencara. Edgar Alan Poe menyatakan fungsi sastra secara umum :

Sastra berfungsi menghibur dan mengajarkan sesuatu. Sastra itu harus bermanfaat, dalam arti ketika membaca sastra tidak dianggap membuang-buang waktu atau bukan sekedar kegiatan iseng. Jadi sastra harus mendapat perhatian serius, tidak membosankan dan memberikan sesuatu kesenangan (dalam Werren dan Wellek, 1993:24-25).

Fungsi sastra secara umum di atas juga berlaku bagi fungsi ketoprak sebagai bagiab dari sastra dalam masyarakat. Ketoprka sebagai kesenian, juga memberikan fungsi hiburan dan kesenangan bagi penikmatnya.

Dalam sistem kebudayaan, ketoprak pada awalnya, merupakan fungsi kemenanagan rakyat setelah panen, dalam perkembangannya menjadi fungsi kesenian (Arswendo, 1986:47). Fungsi kebudayaan yang lain dari kesenian ini, adalah sarana ekspresi untuk menyalurkan tanggapan dan kesan lisan beserta sifat-sifatnya, maupun konsep-konsep budaya tertentu melalui bentukan-bentukan visual yang terencana (Setyawati, 1997: 58) mengatakan fungsi kebudayaan ketoprak adalah:

Wahana ekspresi budaya warga pinggiran, beralih pada gerbang budaya nasional, dan kini menjadi asset wisata. Hokum-hukum ekonomi barat yang melanda Asia Tenggara, mangakibatkan status dan fungsi ketoprak yang mulanya merupakan bagian tidak terpisahkan dari masyatakat menjadi porak-paranda. Ketoprak sebenarnya mempunyai potensi sebagai seni rakyat untuk mendirikan benteng budaya yang kokoh di tengah modernisasi yang mendesak ruang gerak budaya sendiri.

Fungsi ketoprak membentuk sistem budaya strafikasi. Tata krama yang ketat dan adanya kekerabatan yang erat dalam ikatan silsilah keturunan. Tata krama menghasilkan “unggah-ungguh” meliputi aturan sikap dan bahasa yang dipergunakan, akhirnya juga menciptakan sastra Jawa yang kompleks(Wardana, 1990:76).

Untuk mengimbangi laju perkembangan budaya barat, Wardhana (1990:78) memberikan upaya-upaya pemecahan agar budaya bangsa tetap dapat dipertahankan, upaya-upaya tersebut yaitu:

  1. Memperkenalkan secara aktif dan gigih kelebihan nilai-nilai sastra dan budaya Jawa (khususnya ketoprak) seluas dan sedalam mungkin
  2. Meyakinkan masyarakat luas akan keadiluhuran kesenian dan budaya sendiri dengan penampilan-penampilan yang mengagumkan
  3. Mengupayakan lingkup budaya sendiri semakin bergengsi.
  4. Membuktikan kekuatan sastra Jawa dengan melontarkan kekayaan kesusastraan dan potensi budaya yang sempurna.

G. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Istilah ini dianngap lebih tepat dari pada istilah kualitatif, istilah kualitatif lebih mengacu pada aspek kualitas, atau aspek benar dan salah (Sudaryanto, 1984). Sedangkan dalam penelitian sastra ini, tidak mencari kebenaran dan kesalahan dalam sastra, khususnya dalam ketoprak. Tetapi mendeskripsikan format pementasan ketoprak, keberadaan ketoprak, bentuk-bentuknya, dan penggambaran persepsi masyarakat terhadap objek penelitian tersebut.

Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitia etnografi dalam bidang sastra. Menurut Amri Marzali ( dalam James P. spradley, 1997:XV) jenis penelitian etnografi secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, atau hasil penelitian lapangan. Istilah etnografi juga dapat dipakai untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut. Penelitia ini hanya meneliti kesenian ketoprak yang ada di Blitar. Perkembangan dan persepsi masyarakat terhadapa ketoprak di Blitar akan berbeda dengan perkembangan dan persepsi di daerah lain. Oleh Karena itu metode etnografi dipakai dalam penelitian ini, untuk mengungkap persepsi dna perkembangan ketoprak khusus di daerah Blitar.

2        Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, responden penelitia, serta dokumen-dokumen tentang ketoprak. Sumber data dalam penelitian ini mempunyai tiga kategori sesuai dengan banyaknya rumusan masalah.

Sumber data format pementasan dan bentuk-bentuk ketoprak yang berkembang di Kabupaten Blitar, diperoleh melalui observasi pada pementasan-pementasan ketoprak di daerah tersebtu, wawancara dengan tokoh-tokoh dan senima ketoprak, dan sumber-sumber yang berupa dokumen.

Data apresiasi masyarakat terhadap kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar, didapat dari penyebaran angket kepada sumber data yang berupa informan ( penikmat atau penonton ketoprak ). Informan berjumlah 100 orang yang diambil secara random.

Sedangkan bentuk –bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoptrak, maupun lembaga-lembaga terkait, diperoleh melalui wawancara dengan 10 informan  yang berkompeten. Informan tersebut terdiri dari seniman-seniman ketoprak dan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat.

  1. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi pada pementasan-pementasan ketoprak, wawancara dengan 10 informan yang terdiri dari seniman-seniman ketoprak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, penyebaran angket kepada 100 informan yang dipilih secata random, penyebara angket dilakukan setelah acara pementasan dan dilakukan dengan berkunjung dari rumah ke rumah.

Instrumen pengumpulan data ini berupa daftar dan aspek-aspek yang akan diobsevasi, daftar pertanyaan, pedoman wawancara bebas terpimpin ( dalam wawancara, pewawancara hanya membawa garis-garis besar pertanyaan ), lembar analisis, lembar tabulasi dan lembar klasifikasi data.

  1. Metode Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan pendekatan reseptif. Sebagaimana dikemukakan dalam landasa pustaka, pendekata reseptif merupakan kerangka analisis terhadap karya sastra dengan penekanan pada aspek penikmat karya sastra ( Teeuw, 1988:54 ). Teknik yang digunakan adalah pendeskripsian dari masing-masing data yang dikembangkan dari rumusan masalah. Data yang dianalisis secara berurutan adalah format pementasan ketoprak di Kabupaten Blitar, apresiasi masyarakat Blitar terhadap keberadaan ketoprak di daerahnya, dan bentuk-bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insane ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dna mengembangkan di Kabupaten Blitar.

  1. Metode Penarikan Kesimpulan

Metode penelitian ini adalah metode deduktif, penarikan kesimpulan dari umum ke khusus. Metode ini digunakan dengan pertimbangan. Penelitian ini adalah penelitian sastra tradisional, atau dapat disepadankan dengan penelitian kebudayaan, dengan sumber-sumber data yang sangat general, diantaranya lembaga-lembaga ketoprak dri berbagai daerah di Blitar, yang sempat pentas di Blitar, tokoh-tokoh dari berbagai kalangan (tokoh ketoprak, birokrat, dan tokoh masyarakat), dan masyarakat umum penggemar ketoprak. Hasil data yang umum tersebut dianalisis untuk memperoleh simpulan khusus tentang ketoprak di Blitar, simpulan tersebut tidak dapat digeneralisasi  pada kasus ketoprak di luar Blitar.

  1. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Penelitian ini direncanakan selesai dalam jangka waktu 4 bulan . perkiraan waktuk dan kegiatan pokok penelitian ini tersajikan pada jadwal berikut ini:

Jadwal Kegiatan Penelitian

Bulan 

 

I II III IV
Kegiatan
Survey dan perizinan X
Penyedianan Data

X

X

Penganalisisan Data

X

X
Penyajian Analisis Data

X

X

Review dan Evaluasi

X

Laporan Hasil Penelitian

X

Diskusi Tim Peneliti                     X                      X                         X                       X

J. NAMA dan BIODATA ANGGOTA

1. Ketua :

a. Nama                                   : M.Arif

b. Tempat, tanggal lahir          : Sidoarjo, 04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210019

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

2. Anggota I :

a. Nama                                   : Nirwanto

b. Tempat, tanggal lahir          : Pacitan,04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210016

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

3. Anggota II :

a. Nama                                   : Dwi Risdianto

b. Tempat, tanggal lahir          : Mojosari, 04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210005

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

K. NAMA dan BIODATA DOSEN PENDAMPING

a. Nama                                   : Haerussaleh, M. Pd

b. Tempat, tanggal lahir          :

c. NIP                                      : 2007210005

d. Jabatan Fungsional             :

e. Jabatan Struktural               :

f. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

g. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

h. Bidang Keahlian                 : Ilmu Budaya Dasar, Ketrampilan Menulis

i. Riwayat Pendidikan                        :

L. BIAYA

1. Bahan dan Peralatan Penelitian

a. HVS Kuarto 80 gram 2 rim @ Rp.35.000,00               Rp.  70.000,00

b. Tinta Printer 2 buah @ 28.000                                      Rp.  46.000,00

c. Alat Tulis Kantor 1 set                                                  Rp. 150.000,00

d. Pengadaan Proposal                                                      Rp. 200.000,00

e. Baterai 6 buah                                                               Rp.     8.000,00

Jumlah                                                                             Rp. 474.000,00

2. Konsumsi

a. Snack 3 x 8 x @ Rp 5000                                             Rp.  120.000,00

b. Air Mineral 3 botol x 8 x @ 2.500                                Rp.    60.000,00

c. Makan besar 3 orang x 24 x Rp 6000                           Rp   432.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  612.000,00

3. Transportasi

Transportasi Surabaya – Blitar PP @ Rp.24.000 x

8 x 3 orang                                                                        Rp.  576.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  576.000,00

4.   Dokumentasi

a. Sewa Handycam                                                           Rp.   450.000,00

b. Transfer CD                                                                  Rp.   300.000.00

c. Sewa kamera digital                                                      Rp.   200.000,00

d. Print Foto                                                                      Rp.   250.000,00

Jumlah                                                                             Rp. 1.200.000,00

5.   Seminar dan Jurnal Ilmiah

a. Materi Seminar                                                              Rp.   800.000,00

b. Artikel Jurnal Ilmiah                                                     Rp.   700.000,00

Jumlah                                                                             Rp.1.500.000,00

  1. Monitoring dan Evaluasi

a. Poster Ilmiah @ Rp 275.000                                         Rp.  550.000,00

b. Publikasi Ilmiah ( liflet, dll)                                          Rp.  304.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  854.000,00

  1. Penyusunan Laporan

Laporan akhir                                                                    Rp.  784.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  784.000,00

REKAPITULASI BIAYA PENELITIAN

  1. Bahan dan Peralatan Penelitian                                  Rp.   474.000,00
  2. Konsumsi                                                                    Rp.   612.000,00
  3. Transportasi                                                                 Rp.   576.000,00
  4. Dokumentasi kegiatan                                                            Rp. 1.200.000,00
  5. Seminar dan Jurnal Ilmiah                                          Rp. 1.500.000,00
  6. Monitoring dan Evaluasi                                             Rp.    854.000,00
  7. Penyusunan laporan                                                    Rp.    784.000,00

Jumlah                                                                       Rp. 6.000.000,00

M. DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : CV. Sinar Baru.

Anonim. 1974. Bahasa Indonesia Kesusastraan. Jakarta : Depdikbud.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung : Rineka Cipta.

Asmara, Adhy. 1979. Apresiasi Drama (untuk SLTA ). Yogyakarta : CV. Nur Cahaya.

Badan Statistik Blitar. 1997. Kabupaten Blitar.

Dananjaya, James. 1997. Folkar Indonesia. Jakarta : PT. Grafitri.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Teori Sastra. Jakarta :  Depdikbud.

Djodi, M. Tanpa tahun, Mengenal Permainan Seni Drama. Jakarta : PT. Arena Ilmu.

Depdikbud. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

FKIP. 1997. Pedoman Penulisan Ilmiah, Makalah (diktat kuliah). Surabaya : Universitas Dr. Soetomo.

Harymawan, RMA. 1993. Drama Turgi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia.

Koentjaraningrat. 1994. Metode Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.

Mardianto, Hery. 1996. “ Mempertimbangkan Sastra Jawa” dalam Mempertimbangkan Sastra Jawa (Harwi ed). Semarang: Yayasan Adhigama.

Purwaraharja, Lephen dan Bondan Nusantara. 1997. Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta : Yayasan Benteng Budaya.

Rendra. 1984. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta : Gramedia.

Saini, KM dan Mursal Esten. 1994. Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : Grasindo Gramedia Asarana Indonesia.

Setyawati, Edi. 1993. Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : Grasindo.

Subagya, Hari. 1997. Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya.

Sunarto. 1989. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta. Jakarta : PT. Balai Pustaka.

Supriyanto, Henri. 1986. Pengantar Study Teater; Untuk SMA. Surabaya : Kopma IKIP.

NN, 1992. Lakon Ludruk Jawa Timur. Jakarta : PT. Gramedia.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yoga.

Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar  Teori Sastra. NTT : Nusa Indah

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra; Pengantar Teori Sastra. Bandung: Giri Mukti Pustaka.

Ras, JJ. 1985. Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta. PT. Grafiti Press.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia.

BIDANG KEGIATAN:

PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:

M. Arif                     (2007210019) angkatan 2007

Nirwanto                  (2007210016) angkatan 2007

Dwi Risdianto         (2007210005) angkatan 2007

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Dr. Soetomo

Surabaya

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.