PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA PERSEPSI DAN UPAYA MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN KETOPRAK SEBAGAI TEATER TRADISIONAL DI KABUPATEN BLITAR

A. JUDUL PROGRAM

PERSEPSI DAN UPAYA MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN KETOPRAK SEBAGAI TEATER TRADISIONAL DI KABUPATEN BLITAR

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Salah satu kesenian tradisional yang bertahan sampai saat ini adalah ketoprak. Kesenian ini sampai saat ini masih kita jumpai baik dalam bentuk pertunjukan di lapangan terbuka maupun di dalam gedung, baik di radio maupun di televise. Perkembangan ketoprak dari tahun ke tahun perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerhati kesenian, masyarakat maupun lembaga-lembaga yang berkompeten, dalam hal ini khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Akhir-akhir ini kesenian ketoprak mangalami kemunduran, hal ini dapat kita lihat dari berkurangnya kelompok-kelompok ketoprak yang semakin menyusut dan minat masyarakat yang menurun karena banyaknya hiburan yang lebih modern. Apalagi ditambah dengan keengganan generasi muda untuk mengembangka kesenian ini. Sebagaian generasi muda di Blitar berpendapat bahwa dunia ketoprak tidak dapat dijadikan mata pencaharian yang menjamin masa depan, bahkan ada kecenderungan dari insan seni ketoprak amatir yang tampil dalam pementasan ketoprak hanya sebagai pengisi waktu luang. Masyarakat akan berapresiasi negatif terhadap keberadaan ketoprak, apabila keadaan tersebut dibiarkan, sehingga sewaktu saat dalam perkembangan kesenian ketoprak muncul perkumpulan ketoprak yang bagus dan professional akan dinilai sama dengan ketoprak yang pernah disaksikan sebelumnya.

Penelitian ketoprak di Blitar ini di latar belakangi keinginan berbagai permasalahan ketoprak di Blitar. Dalam pandangan umum perkembangan ketoprak di Blitar antara satu kecamatan satu daengan kecamatan yang lainnya berbeda, baik dari jumlah perkumpulan (grup), jumlah pemain maupun jumlah pementasan dalam setahun. Dari aspek persepsi dan antusias penonton antara kecamatan yang satu dengan kecamatan yang lain berbeda. Hal tersebut terjadi karena kualitas dan kuantitas pertunjukan tidak menunjukka keseimbangan.

Penelitia persepsi masyarakat terhadap ketoprak sebagai teater tradisional ini sangat penting untuk mengukur keberadaan ketoprak yang ada di Blitar baik dari segi kualitas dan kuantitas. Selain itujuga mencoba memberikan format alternatif yang efektif terhadap kesenian tradisional ketoprak, agar tetap bertahan dan berkembang dalam menghadapi persaingan dengan berbagai kebudayaan impor di era glabalisasi.

Kesenian ketoprak akan berjalan sesuai dengan harapan apabila mempertimbangkan aspek-aspek lain, terutama yang berkaitan dengan aspek sosiologis. Aspek yang harus dipertimbangkan terutama aspek dialektika yang sangat berpengaruh pada penikmat ketoprak itu sendiri, aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah nilai amanat dan misi yang akan disampaikan, nilai estetisnya, dan penyesuaian esensi ketoprak dengan penonton sebagai konsumen seni.

Fenomena yang akan kita lihat adalah musnahnya kesenian ketoprak di masa yang akan datang, apabila semua itu tidak diperhatikan, permasalahan ini diangkat karena kenyataan yang ada di lapangan memperlihatkan grafik yang negatif. Banyak kelembagaan ketoprak yang sudah kehilangan makan dan esensi seni. Sebagai kesenian tradisi yang mempertimbangkan aspek kedaerahan, seharusnya ketoprak memiliki tujuan luhur, yaitu mengutamakan aspek pembinaan dan pendidikan terhadap masyarakat, terutama aspek pendidikan kesejarahan. Pergeseran unsure sejarah dalam pementasan-pementasan ketoprak memang menjadi issue parsial saat ini, banyak yang memodifikasi nilai sejarah dalam ketoptrak, sehingga nilai-nilai kesejarahan tersebut bergeser. Lebih tepatnya misi-misi sejarah dalam ketoprak dalam saat ini telah banyak dirombak, diganti misi-misi yang diselaraskan dengan berbagai kepentingan. Dengan begitu, saat ini timbullah sebutan-sebutan baru; yaitu corak ketoprak-ketoprak  tradisional dan ketoprak modern ( Suwondo:1997 ).

Dalam tataran lain, penelitian ini berguna untuk mendokumentasikan perkembangan ketoprak di kabupaten Blitar dari tahun ke tahun, memberikan sumbangan gagasan dalam pembinaan dan pelestarian kesenian ketoprak khususnya di Kabupaten Blitar. Pembinaan mengacu pada pengertian pengarahan pertumbuhan dan perkembangan ketoprak di masyarakat dengan tidak menghilangkan cirri-ciri khas tradisional, sehingga terjadi pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan terjadi dengan wajar, mutu dan kekhasan artistiknya dapat dipertahankan.

Demikianlah berbagai alasan yang melatar belakangi munculnya keinginan merealisasikan kedalam penelitian persepsi terhadap ketoprak sebagai teater tradisional dan perkembangannya di Kabupaten Blitar.

C. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini

sebagai berikut:

  1. Bagaimana format ketoprak di Kabupaten Blitar?
  2. Bagaimanakah  apresiasi masyarakat Kabupaten Blitar terhadap keberadaan kesenian ketoprak?
  3. Bagaimana bentuk-bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dan mengembangka ketoprak di Kabupaten Blitar?

D. TUJUAN PROGRAM

Berkaitan dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian yang akan

dicapai yaitu sebagai berikut ini:

  1. Mendeskripsikan format pementasan ketoprak di Kabupaten Blitar
  2. Mendeskripsikan apresiasi masyarakat Kabupaten Blitar terhadap keberadaan kesenian ketoprak
  3. Mendeskripsikan bentuk- bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dan mengembangka ketoprak di Kabupaten Blitar

E. MANFAAT PROGRAM

a. Manfaat Teoritis

–  Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi khasanah perkembangan kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar khususnya dan di Jawa Timur pada umumnya.

–  Hasil penelitian diharapakan dapat memberikan masukan bagi teori-teori seni tradisional.

b. Manfaat Praktis

–  Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar.

–  Sebagai salah satu acuan kritik ketoprak selanjutnya, baik bagi mahasiswa maupun peminat sastra lainnya.

F. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Program penelitian ini diharapkan memberikan luaran sebagai berikut:

  1. Artikel Ilmiah
  2. Panduan penelitian terhadap kesenian ketoprak sebagai teater tradisionall

G. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

1.  Landasan Teori

Definisi sastra yang dikemukakan para ahli sangat banyak. Banyaknya definisi yang dikemukakan itu akibat sudut pandang yang berbeda terhadap sastra. Secara etimologis, kata “kesusastaraan” berasal dari bahasa sensekerta “ susastra”. “su” berarti ‘indah’ atau ‘baik’, sedangkan “sastra” adalah kata bentukan yang berasa dari kata pradasar “sus” (Shus atau Cus) dan “tra”. “Sus” berarti aturan, ajaran, ilmu pengetahuan, nasihat, petunjuk, atau agama. “Tra” artinya alat, sehingga sastra berarti alat untuk menyampaikan ajaran, aturan, ilmu pengetahuan, dan agama. Dalam perkembangannya “kesusastraan” berarti karangan-karangan sastra ( Anonim, Depdikbud, 1974)

Menurut pandangan Wellek dan Warren (1993) mendefinisikan sastra dari sudut ekspresif, sebagai suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Dalam sudut pandang sosial, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupaka ciptaan sosial, ( Sapardi DjokoDamono, 1978:1).

Dalam batasan yang lebih luas, sastra didefinisikan sebagai suatu ciptaan manusia yang dilahirkan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang sanggup menggemakan keindahan dan kesenangan dalam lubuk jiwa dan menimbulkan keharuan rasa pada orang yang membacanya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993:7)

Secara genre sastra dibagi menjadi 3 yaitu: puisi, prosa dan drama. Ketoprak dalam sastra termasuk drama tradisional. Demikian beberapa definisi sastra dikemukakan, sangat banyak  definisi lain dari berbagai ahli dan berbagai sudut pandang yang belum terangkum dalam tulisan ini.

Pengertian sastra tradisional sebenarnya adalah istilah dari sastra modern. Pembagian yang didasarkan pada aspek waktu pemunculan dan corak sastra secara kategorial dan pertimbangan tradisi ( Rendra, 1984:3 ).

Sastra dapat dibedakan sesuai sudut pandang yang diambil, misalnya sastra kontemporer dan sastra konservatif dalam sudut pandang model dan esensi sastra. Tulisan ini memfokuskan pada pembagian sastra tradisional dan modern sesuai dengan ranah analisis dan penelitian yang dikembangkan.

Corak perbedaan sastra tradisional dan modern didasarkan kurun waktu. Karya seperti novel, cerita pendek, dan drama tergolong dalam genre sastra modern. Sedangkan yang bercorak tradisional yaitu: ketoprak, wayang, ludruk dan kentrung. Sastra modern umumnya bercorak realities, sedangkan sastra tradisional bersifat klasik, dengan muatan legenda dan mitos. Bandingkan dengan JJ. Ras ( 1985:XIII ):

Novel dan cerita pendek Jawa modern bercorak realities romantik, diteruskan dengan genre-genre yang lebih tradisional seperti: wayang, ketoprak, kentrung, dan juga dalam karya bertalian dengan kesusastraan klasik, dengen legenda dan mitos. Karangan fiksi yang isinya sangat jauh dari luar bidang romantik yang lazim sampai sekarang belum bisa popular betul. Walaupun penulis fiksi Jawa modern tentu saja tidak menyajikan penggambaran secara harfiah, hubungan nyata antara cerita dan kehidupan sesungguhnya sampai sekarang masih menjadi cirri penting dalam sebagaian besar karangan.

Rendra (1984) mendefinisikan sastara tradisional sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam sebuah masyarakat. Ia merupakan kesadaran kolektif sebuah masyarakat. Sedangkan JJ. Ras (1985) memberikan pengertian yang hampir sama dengan Rendra tentang sastra tradisional sebagai sastra yang terikat oleh patokan-patokan yang ditaati turun temurun dan dari generasi ke generasi, sendangkan sastra modern merupakan hasil rangsangan kreatif dalam masyarakat modern.

Sebagaimana dijelaskan pada bagain di atas tentang sastra tradisional, di bawah ini akan dipaparkan jenis-jenis sastra tradisional, dengan focus uraian pada kesenian tradisional sebagai objek penelitian.

Wayang adalah jenis pertunjukan kesenian tradisional dengan menggunakan wayang kulit, dengan cerita-cerita yang mula-mula bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana dari India, permainannya dilakukan oleh seorang dalang (bandingkan dengan Sunarto, 1989:12)

Ludruk adalah salah satu kesenian khas Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, termasuk Malang, Jombang, Kediri, dan Jember. (Supriyanto, 1992:IX). Cirri-ciri ludruk sebagai kesenian tradisional sebagaimana dijelaskan Supriyanto adalah : (1) tokoh wanita sebagian besar diperankan oleh laki-laki, (2) lagu seniman ludruk berupa kidung, (3) iringan musiknya adalah gamelan berlaras slendro, pelog, dan laras slendro pelog, dan (4) tari pembukaan disebut “gremo

Kentrung adalah nama kesenian tradisional yang berasal dari iringan musik khusus yang menceritakan kisah tertentu. Musik tertentu terdiri dari rebana-rebana kecil dan besar. Kisah-kisah yang diceritakannya biasanya adalah; Aji Saka, Jaka Tarub, Roman Damarwulan, dan sebagainya (JJ. Ras, 1985:5)

Tari Topeng, bila ditinjau dari fungsi kesenian merupakan sarana ekspresi simbolis untuk mewujudkan kosepsi-kosepsi keagamaan, khususnya yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan tertentu (Edy Setyawati, 1993:2).

Ketoprak sebagai teater tradisional pada awalnya lahir dari spontanitas pelaku di tengah-tengah masyarakatnya ( Supriyanto, 1986:91). Lebih luas lagi Asti Diponingrat dalam JJ. Ras (1985:224) menjelaskan pengertian ketoprak secara etimologis:

Secara etimologis ketoprak berasal dari kata ‘dung..dung..prak’ atau bunyi-bunyian ‘prak..prak..prak’ dari alat penumbuk padi. Dari bunyi-bunyian yang ‘dung..dung..prak’, maka teater ini disebut “ketoprak”. Dalam pandangan lain bunyi tersebut dihasilkan dari peralatan terbuat dari bambu yang diikat pada ujungnya. Alat ini digunakan oleh para petani di pedesaan untuk mengusir burung-burung yang mau memakan padi di sawah. Alat bambu tersebut disebut ‘tiprak’, ‘goprak’, bahkan ada yang mengatakan ‘keprak’.

Henry Supriyanto (1985:105) memberikan pengertian ketoprak sebagai pertunjukan yang diiringi bunyi-bunyian semacam goprak secara dominant tersebut akhirnya oleh rakyat disebut sebagai ketoprak. Ketoprak sebagai teater tumbuh dari rakyat yang “ngamen”, semula meraka memakai tetabuhan lesung dan selanjutnya menggunakan gamelan Jawa.

Berdasarkan hasil kongres ketoprak pada tanggal 5-7 februari 1974 di Yogyakarta, dirumuskan periodesasi ketoprak berdasarkan tempat pementasan, pertumbuhan, dan kesejarahannya, sebagai berikut (Supriyanto, 1986:105):

(1)   masa pertama  : ketoprak halaman (lesung) atau drama rakyat,

(2)   masa kedua     : ketoprak pendapaan atau dikenal dengan drama tari (1925-1927)

(3)   masa ketiga     : ketoprak panggung atau gamelan (1927- sekarang)

Ketoprak terdiri dari dua ragam yaitu: ragam garapan dan ragam konvensional. Ketoprak garapan didefinisikan sebagai ketoprak yang digarap dengan memadukan unsure-unsur kesenian lain seperti: teater modern, film, wayang kulit, ludruk, tari, dan lain-lain. Artinya ketoprak garapan sangat terbuka terhadap berbagai unsur seni. Aspek bahasa, musik pengiring, setting, lakon (struktur lakon) serta berbagai tradisi dan kebiasaan  yang lazim dilakukan dalam pertunjukkan ketoprak, dipengaruhi oleh idiom kesenian lain sehingga penyajian ketoprak lebih terlihat tergarap.

Sebagimana hasil lokakarya ketoprak 1997 di Yogyakarta. Cirri-ciri ketoprak garapan sebagai berikut: (1) menggunakan naskah penuh, (2) tangga dramatik mengacu pada dramaturgi barat (3) akting dan bloking ditata dan berpola, (4) tatarias, tatabusana realis dan simbolis, (5) tatalampu dan tatasuara mamanfaatkan teknologi elektronok, (6) instrumen pengiring lehih luas, tidak harus diatonis atau pentatonic, tetapi dapat juga dikombinasi, (7) pertunjukan tidak lebih dari 2,5 jam, (8) keprak kadang dipakai kadang tidak, dan (9) tembang kadang dipakai kadang tidak.

Ketoprak konvensional adalah ketoprak yang berkenan di hati masyarakat pinggiran. Ketoprak konvensional dapat juga dikatakan sebagai bagian dari kebutuhan jiwa bagi meraka yang memiliki komitmen pada budaya local Jawa melalui ketoprak. Cirri-ciri ketoprak ini adalah: (1) tidak menggunakan naskah atau scenario, (2) dramatik lakon mengacu pada wayang kulit purwa: (3) dialog bersifat improvisasi, (4) akting dan bloking bersifat intuitif, (5) tatarias dan tatausana realis, (6) musik pengiring gamelan Jawa, (7) menggunakan keprak dan tembang, (8) lama pertunjukan relatif lama, (9) tema cerita dan pengaluran bersifat lentur (Nusantara, 1967:52-56)

Menurut Harymawan (1993), terdapat empat macam akulturasi ketoprak terhadap teater barat yaitu:

  1. Faktor Cerita

Mula-mula diambil dari cerita-cerita klasik, legenda khayal, seperti Panji, Jaka Tarub, dan Piti Tumo. Kemudian meningkat cerita Mesir, Cina, Ma Cun dan lain-lain dan akhirnya diketengahkan cerita-cerita sejarah, kapahlawanan, roman, dan sebagainya.

  1. Faktor Akting

Dengan menari, semula maju mundur, kemudian menjadi joget daplang berirama 3-2-1, lenggal ukel bagi kaum wanita, akhirnya tarian ditiadakan, dialognya bebas, improvisasi, sederhana, dan mudah diterima oleh penonton. Kemudian dkenal paramasastra dan antawecana dengan unsure-unsur filsafat Jawa.

  1. Faktor Pentas

Ruang pelakonan adalah tempat terbuka, kemudian “perunggitan”, yaitu bagian dalam runah konstruksi Jawa, Pendapa, dan akhirnya panggung

  1. Faktor Penonton

Mula-mula rakyat jelata, kemudian mendapat sponsor dari kalangan ningrat, sehingga kalangan ini mulai tertarik pada ketoprak, akhirnya masyarakat luas turut menikmati.

Menurut sutradara Siswo Budoyo, Budihartanto struktur pementasan ketoprak tradisional meliputi:

  1. Klenengan oleh karawitan
  2. Tari gambyong dan tari-tari lainnya
  3. Memulai pertunjukan dari babak ke babak
  4. Dagelan yang mengiringi tokoh baik protagonist maupun antagonis
  5. Melanjutkan babak berikutnya hingga selesai.

Menurut Henry Supriyanto (1993) fungsi ketoprak dalam masyarakat adalah:

  1. Sebagai alat pendidikan
  2. Sebagai media komuniksi seni
  3. Sebagai hiburan
  4. Sebagai media histories

Ketoprak merupakan budaya bangsa yang dihasilkan rakyat yang membutuhkan suatu bentuk kesenian, bentuk pentas yang sesuai dengan tuntutan masyarakat waktu itu. Dengan demikian, fungsi ketoprak dalam sastra menurut Edy Setiawati (dalam Seni Pertunjukan Indonesia, 1993:32) sebagai sarana ekspresi simbolis untuk menyalurkan tanggapan-tanggapan dan kesan atas alam  beserta sifat-sifatnya, maupun atas konsep-konsep budaya tertentu dalam bentuk visual yang terencara. Edgar Alan Poe menyatakan fungsi sastra secara umum :

Sastra berfungsi menghibur dan mengajarkan sesuatu. Sastra itu harus bermanfaat, dalam arti ketika membaca sastra tidak dianggap membuang-buang waktu atau bukan sekedar kegiatan iseng. Jadi sastra harus mendapat perhatian serius, tidak membosankan dan memberikan sesuatu kesenangan (dalam Werren dan Wellek, 1993:24-25).

Fungsi sastra secara umum di atas juga berlaku bagi fungsi ketoprak sebagai bagiab dari sastra dalam masyarakat. Ketoprka sebagai kesenian, juga memberikan fungsi hiburan dan kesenangan bagi penikmatnya.

Dalam sistem kebudayaan, ketoprak pada awalnya, merupakan fungsi kemenanagan rakyat setelah panen, dalam perkembangannya menjadi fungsi kesenian (Arswendo, 1986:47). Fungsi kebudayaan yang lain dari kesenian ini, adalah sarana ekspresi untuk menyalurkan tanggapan dan kesan lisan beserta sifat-sifatnya, maupun konsep-konsep budaya tertentu melalui bentukan-bentukan visual yang terencana (Setyawati, 1997: 58) mengatakan fungsi kebudayaan ketoprak adalah:

Wahana ekspresi budaya warga pinggiran, beralih pada gerbang budaya nasional, dan kini menjadi asset wisata. Hokum-hukum ekonomi barat yang melanda Asia Tenggara, mangakibatkan status dan fungsi ketoprak yang mulanya merupakan bagian tidak terpisahkan dari masyatakat menjadi porak-paranda. Ketoprak sebenarnya mempunyai potensi sebagai seni rakyat untuk mendirikan benteng budaya yang kokoh di tengah modernisasi yang mendesak ruang gerak budaya sendiri.

Fungsi ketoprak membentuk sistem budaya strafikasi. Tata krama yang ketat dan adanya kekerabatan yang erat dalam ikatan silsilah keturunan. Tata krama menghasilkan “unggah-ungguh” meliputi aturan sikap dan bahasa yang dipergunakan, akhirnya juga menciptakan sastra Jawa yang kompleks(Wardana, 1990:76).

Untuk mengimbangi laju perkembangan budaya barat, Wardhana (1990:78) memberikan upaya-upaya pemecahan agar budaya bangsa tetap dapat dipertahankan, upaya-upaya tersebut yaitu:

  1. Memperkenalkan secara aktif dan gigih kelebihan nilai-nilai sastra dan budaya Jawa (khususnya ketoprak) seluas dan sedalam mungkin
  2. Meyakinkan masyarakat luas akan keadiluhuran kesenian dan budaya sendiri dengan penampilan-penampilan yang mengagumkan
  3. Mengupayakan lingkup budaya sendiri semakin bergengsi.
  4. Membuktikan kekuatan sastra Jawa dengan melontarkan kekayaan kesusastraan dan potensi budaya yang sempurna.

G. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Istilah ini dianngap lebih tepat dari pada istilah kualitatif, istilah kualitatif lebih mengacu pada aspek kualitas, atau aspek benar dan salah (Sudaryanto, 1984). Sedangkan dalam penelitian sastra ini, tidak mencari kebenaran dan kesalahan dalam sastra, khususnya dalam ketoprak. Tetapi mendeskripsikan format pementasan ketoprak, keberadaan ketoprak, bentuk-bentuknya, dan penggambaran persepsi masyarakat terhadap objek penelitian tersebut.

Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitia etnografi dalam bidang sastra. Menurut Amri Marzali ( dalam James P. spradley, 1997:XV) jenis penelitian etnografi secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, atau hasil penelitian lapangan. Istilah etnografi juga dapat dipakai untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut. Penelitia ini hanya meneliti kesenian ketoprak yang ada di Blitar. Perkembangan dan persepsi masyarakat terhadapa ketoprak di Blitar akan berbeda dengan perkembangan dan persepsi di daerah lain. Oleh Karena itu metode etnografi dipakai dalam penelitian ini, untuk mengungkap persepsi dna perkembangan ketoprak khusus di daerah Blitar.

2        Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, responden penelitia, serta dokumen-dokumen tentang ketoprak. Sumber data dalam penelitian ini mempunyai tiga kategori sesuai dengan banyaknya rumusan masalah.

Sumber data format pementasan dan bentuk-bentuk ketoprak yang berkembang di Kabupaten Blitar, diperoleh melalui observasi pada pementasan-pementasan ketoprak di daerah tersebtu, wawancara dengan tokoh-tokoh dan senima ketoprak, dan sumber-sumber yang berupa dokumen.

Data apresiasi masyarakat terhadap kesenian ketoprak di Kabupaten Blitar, didapat dari penyebaran angket kepada sumber data yang berupa informan ( penikmat atau penonton ketoprak ). Informan berjumlah 100 orang yang diambil secara random.

Sedangkan bentuk –bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insan ketoptrak, maupun lembaga-lembaga terkait, diperoleh melalui wawancara dengan 10 informan  yang berkompeten. Informan tersebut terdiri dari seniman-seniman ketoprak dan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat.

  1. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi pada pementasan-pementasan ketoprak, wawancara dengan 10 informan yang terdiri dari seniman-seniman ketoprak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, penyebaran angket kepada 100 informan yang dipilih secata random, penyebara angket dilakukan setelah acara pementasan dan dilakukan dengan berkunjung dari rumah ke rumah.

Instrumen pengumpulan data ini berupa daftar dan aspek-aspek yang akan diobsevasi, daftar pertanyaan, pedoman wawancara bebas terpimpin ( dalam wawancara, pewawancara hanya membawa garis-garis besar pertanyaan ), lembar analisis, lembar tabulasi dan lembar klasifikasi data.

  1. Metode Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan pendekatan reseptif. Sebagaimana dikemukakan dalam landasa pustaka, pendekata reseptif merupakan kerangka analisis terhadap karya sastra dengan penekanan pada aspek penikmat karya sastra ( Teeuw, 1988:54 ). Teknik yang digunakan adalah pendeskripsian dari masing-masing data yang dikembangkan dari rumusan masalah. Data yang dianalisis secara berurutan adalah format pementasan ketoprak di Kabupaten Blitar, apresiasi masyarakat Blitar terhadap keberadaan ketoprak di daerahnya, dan bentuk-bentuk usaha yang dilakukan masyarakat, insane ketoprak, maupun lembaga terkait untuk melestarikan dna mengembangkan di Kabupaten Blitar.

  1. Metode Penarikan Kesimpulan

Metode penelitian ini adalah metode deduktif, penarikan kesimpulan dari umum ke khusus. Metode ini digunakan dengan pertimbangan. Penelitian ini adalah penelitian sastra tradisional, atau dapat disepadankan dengan penelitian kebudayaan, dengan sumber-sumber data yang sangat general, diantaranya lembaga-lembaga ketoprak dri berbagai daerah di Blitar, yang sempat pentas di Blitar, tokoh-tokoh dari berbagai kalangan (tokoh ketoprak, birokrat, dan tokoh masyarakat), dan masyarakat umum penggemar ketoprak. Hasil data yang umum tersebut dianalisis untuk memperoleh simpulan khusus tentang ketoprak di Blitar, simpulan tersebut tidak dapat digeneralisasi  pada kasus ketoprak di luar Blitar.

  1. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Penelitian ini direncanakan selesai dalam jangka waktu 4 bulan . perkiraan waktuk dan kegiatan pokok penelitian ini tersajikan pada jadwal berikut ini:

Jadwal Kegiatan Penelitian

Bulan 

 

I II III IV
Kegiatan
Survey dan perizinan X
Penyedianan Data

X

X

Penganalisisan Data

X

X
Penyajian Analisis Data

X

X

Review dan Evaluasi

X

Laporan Hasil Penelitian

X

Diskusi Tim Peneliti                     X                      X                         X                       X

J. NAMA dan BIODATA ANGGOTA

1. Ketua :

a. Nama                                   : M.Arif

b. Tempat, tanggal lahir          : Sidoarjo, 04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210019

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

2. Anggota I :

a. Nama                                   : Nirwanto

b. Tempat, tanggal lahir          : Pacitan,04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210016

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

3. Anggota II :

a. Nama                                   : Dwi Risdianto

b. Tempat, tanggal lahir          : Mojosari, 04 April 1986

c. NIM                                                : 2007210005

d. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

e. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

K. NAMA dan BIODATA DOSEN PENDAMPING

a. Nama                                   : Haerussaleh, M. Pd

b. Tempat, tanggal lahir          :

c. NIP                                      : 2007210005

d. Jabatan Fungsional             :

e. Jabatan Struktural               :

f. Fakultas/ Prodi                    : FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia

g. Perguruan Tinggi                 : Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

h. Bidang Keahlian                 : Ilmu Budaya Dasar, Ketrampilan Menulis

i. Riwayat Pendidikan                        :

L. BIAYA

1. Bahan dan Peralatan Penelitian

a. HVS Kuarto 80 gram 2 rim @ Rp.35.000,00               Rp.  70.000,00

b. Tinta Printer 2 buah @ 28.000                                      Rp.  46.000,00

c. Alat Tulis Kantor 1 set                                                  Rp. 150.000,00

d. Pengadaan Proposal                                                      Rp. 200.000,00

e. Baterai 6 buah                                                               Rp.     8.000,00

Jumlah                                                                             Rp. 474.000,00

2. Konsumsi

a. Snack 3 x 8 x @ Rp 5000                                             Rp.  120.000,00

b. Air Mineral 3 botol x 8 x @ 2.500                                Rp.    60.000,00

c. Makan besar 3 orang x 24 x Rp 6000                           Rp   432.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  612.000,00

3. Transportasi

Transportasi Surabaya – Blitar PP @ Rp.24.000 x

8 x 3 orang                                                                        Rp.  576.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  576.000,00

4.   Dokumentasi

a. Sewa Handycam                                                           Rp.   450.000,00

b. Transfer CD                                                                  Rp.   300.000.00

c. Sewa kamera digital                                                      Rp.   200.000,00

d. Print Foto                                                                      Rp.   250.000,00

Jumlah                                                                             Rp. 1.200.000,00

5.   Seminar dan Jurnal Ilmiah

a. Materi Seminar                                                              Rp.   800.000,00

b. Artikel Jurnal Ilmiah                                                     Rp.   700.000,00

Jumlah                                                                             Rp.1.500.000,00

  1. Monitoring dan Evaluasi

a. Poster Ilmiah @ Rp 275.000                                         Rp.  550.000,00

b. Publikasi Ilmiah ( liflet, dll)                                          Rp.  304.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  854.000,00

  1. Penyusunan Laporan

Laporan akhir                                                                    Rp.  784.000,00

Jumlah                                                                             Rp.  784.000,00

REKAPITULASI BIAYA PENELITIAN

  1. Bahan dan Peralatan Penelitian                                  Rp.   474.000,00
  2. Konsumsi                                                                    Rp.   612.000,00
  3. Transportasi                                                                 Rp.   576.000,00
  4. Dokumentasi kegiatan                                                            Rp. 1.200.000,00
  5. Seminar dan Jurnal Ilmiah                                          Rp. 1.500.000,00
  6. Monitoring dan Evaluasi                                             Rp.    854.000,00
  7. Penyusunan laporan                                                    Rp.    784.000,00

Jumlah                                                                       Rp. 6.000.000,00

M. DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : CV. Sinar Baru.

Anonim. 1974. Bahasa Indonesia Kesusastraan. Jakarta : Depdikbud.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung : Rineka Cipta.

Asmara, Adhy. 1979. Apresiasi Drama (untuk SLTA ). Yogyakarta : CV. Nur Cahaya.

Badan Statistik Blitar. 1997. Kabupaten Blitar.

Dananjaya, James. 1997. Folkar Indonesia. Jakarta : PT. Grafitri.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Teori Sastra. Jakarta :  Depdikbud.

Djodi, M. Tanpa tahun, Mengenal Permainan Seni Drama. Jakarta : PT. Arena Ilmu.

Depdikbud. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

FKIP. 1997. Pedoman Penulisan Ilmiah, Makalah (diktat kuliah). Surabaya : Universitas Dr. Soetomo.

Harymawan, RMA. 1993. Drama Turgi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia.

Koentjaraningrat. 1994. Metode Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.

Mardianto, Hery. 1996. “ Mempertimbangkan Sastra Jawa” dalam Mempertimbangkan Sastra Jawa (Harwi ed). Semarang: Yayasan Adhigama.

Purwaraharja, Lephen dan Bondan Nusantara. 1997. Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta : Yayasan Benteng Budaya.

Rendra. 1984. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta : Gramedia.

Saini, KM dan Mursal Esten. 1994. Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : Grasindo Gramedia Asarana Indonesia.

Setyawati, Edi. 1993. Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : Grasindo.

Subagya, Hari. 1997. Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya.

Sunarto. 1989. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta. Jakarta : PT. Balai Pustaka.

Supriyanto, Henri. 1986. Pengantar Study Teater; Untuk SMA. Surabaya : Kopma IKIP.

NN, 1992. Lakon Ludruk Jawa Timur. Jakarta : PT. Gramedia.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yoga.

Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar  Teori Sastra. NTT : Nusa Indah

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra; Pengantar Teori Sastra. Bandung: Giri Mukti Pustaka.

Ras, JJ. 1985. Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta. PT. Grafiti Press.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia.

BIDANG KEGIATAN:

PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:

M. Arif                     (2007210019) angkatan 2007

Nirwanto                  (2007210016) angkatan 2007

Dwi Risdianto         (2007210005) angkatan 2007

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Dr. Soetomo

Surabaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s